You are at Home » Mountain of Ash
Lost Password?
  • Slideshow

  • Gallery

    the-scary-descent-began 13-the-rocky-peak-of-g-arjuna 2-buntu-kabobong-at-enrekang rope-access
  • Get hiking stories by email when we post new story. Enter your email:

  • LIKE us on FB Page

Merbabu (ID)

Sep 12, 2008
Climbed Volcanoes
Save & Share      
Print This
 

Perjalanan Menuju Merbabu

Merbabu Track

Merbabu Track

Oleh Handjono Suwono, Phil Salvador, Yuvid Rastianto, Redo Waworuntu

Click here for English version

April 2007 – Temaram lampu Stasiun Gambir sangat cepat berlari menghilang ketika Kereta Api Argo Anggrek meluncur menuju Semarang pada malam yang sejuk itu. Walaupun masih jam 21:30, mata ke-11 pendaki sudah mulai mengantuk setelah melewati sore yang panjang diperayaan Hari Kartini. Kebanyakan dari kami melewatkan makan malam jam 00:30. Ketika kereta tiba di Semarang pada jam 4:30 dini hari, lampu-lampu masih temaram menyala. Setengah jam kemudian, kami meninggalkan Stasiun Tawang yang indah dan sudah berumur seabad. Melintasi Kota Semarang yang sedang menggeliat bangun, kami melewati Gereja Blenduk yang megah dan juga Lawang-Sewu yang terlihat angker. Menurut cerita, Lawang-Sewu adalah pusat semua hantu di daerah tersebut.

Perjalanan ke Kota pelajar Salatiga memakan waktu 1 jam. Disini kami beristirahat di Pasar Sapi Lama sambil sarapan di Warung Gudeg Koyor Bu Sukini yang ternama. Kami tidak mau melewatkan kesempatan ini, karena warung ini merupakan salah satu warung gudeg paling ternama di Indonesia.

Perjalanan ke Kopeng hanya memakan waktu ½ jam dari Salatiga, tetapi dengan ketinggian 1000m desa ini sudah terasa dingin. Pos Pendakian Utara Gunung Merbabu di Desa Tekelan berjarak sekitar 2km dari Kopeng, melalui jalan desa yang sempit berliku dan berbatu lepas. Di Tekelan kami menyusun rencana akhir untuk pendakian menuju Puncak Merbabu.

Sekitar jam 9:50 kami berangkat dari Tekelan, berbaris menuju puncak. Setelah 2 jam perjalanan yang ringan sampai dengan ketinggian 1800m, perlahan-lahan pendakian yang sesungguhnya mulai tampak. Beberapa tempat dengan kemiringan hingga 600 cukup melelahkan, walaupun ketinggian vertikal-nya belum begitu menyiksa kaki-kaki kami. Kira-kira 1 jam kemudian, kami baru menyadari bahwa bekal makan siang terbawa oleh para portir yang mendaki melalui lintasan lain. Untungnya, masih ada beberapa potong roti, keju, dendeng, kue dan buah didalam ransel-ransel kami.

Udara yang lembab dengan cepat berubah menjadi dingin apabila kami beristirahat sejenak untuk mengambil nafas. Bagi kami yang kurang waspada, rerumputan yang lebat sangatlah mengundang untuk direbahi. Tapi awas, punggung kita akan menjadi basah dan terasa dingin sekali. Sisa-sisa pancaran sinar surya pada sore itu sungguh terasa nyaman dan agak mengeringkan pakaian kami yang lembab.

Ketika senja mulai menjelang, kami berjalan di punggungan gunung sambil menyaksikan lukisan Tuhan di langit. Pantulan sinar matahari terbenam dan awan yang berada dibawah membuat kami sadar bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari alam semesta. Gelap mulai menyelimuti, lampu senter dikepala harus dihidupkan agar kami tidak terpeleset jatuh merosot. Beberapa langkah mendaki sungguh terasa berharga ketika dingin dan lapar menyertai kami. Untunglah sinar bulan yang temaram dan ribuan bintang di langit yang cerah menemani kami berjalan. Saat itu belum bulan purnama tetapi cukup terang untuk menyalakan semangat para pendaki yang kedinginan dan kelaparan.

Kami memutuskan untuk berkemah ketika mencapai ketinggian 2500m karena sudah kelelahan setelah diserang dingin dan lapar. Makan malam disekeliling api unggun membuat kami semua ingin berada lebih dekat dengan api. Makan malam kami bukanlah yang sangat nyaman, dibawah langit dan dengan suhu 100C. Tetapi tak mengapa, karena memang itulah yang terbaik untuk saat itu. Temaram sinar lampu dari desa-desa tersebar di kaki gunung. Nun jauh di Timur sinar lampu Kota Salatiga yang kekuningan sedikit memberikan rasa hangat dari kejauhan.

Pagi harinya kami memaksakan sarapan dengan mi-instan, telur dan apel. Untungnya, teh panas membantu mendorongnya masuk ke perut kami yang masih dingin. Kemudian kami berbaris kembali untuk pendakian menuju puncak.

Meskipun sinar bulan masih menerangi jalan setapak, senter dikepala kami masih diperlukan ketika kami berangkat dari perkemahan jam 4:00 pagi. Pendakian pada pagi hari itu benar-benar merupakan suatu perjuangan. Bagian akhir pendakian yang memakan waktu sekitar 3 jam terasa sangat panjang. Medan yang kami lalui terjal, berbatu dan bertanah licin. Untunglah sepatu kami adalah sepatu khusus untuk mendaki. Dengan bantuan senter dikepala, kami berjuang mendaki tanjakan yang lebih terjal lagi, terkadang hingga 900. Jarak vertikal-nya juga terkadang tinggi sekali. Bebatuan seukuran tinju sesekali menggelinding kebawah apabila terinjak kaki kami yang lelah. Untungnya udara yang tidak begitu dingin melingkupi pendakian kami dipagi buta itu.

Semakin dekat ke puncak semakin terjal saja jalan yang harus dilewati. Bahkan kami harus berhadapan dengan sebuah tebing batu yang tegak. Jalur selebar 20cm yang tidak rata seperti terpahat pada tebing itu, cukup untuk menapak dan berpegangan ditebing yang tegak. Di sebelah kiri tebing terdapat jurang menganga berbentuk melengkung. Memang bukan celah yang dalam dan tak berdasar, tapi untuk beberapa dari kami yang bukan pendaki kawakan, dapat melaluinya dengan selamat cukup membuat bangga. Setelah itu kami harus melalui tanjakan terjal dengan kemiringan 600-800 yang diakhiri dengan jalur yang agak datar. Dan akhirnya sampailah kami di Puncak Kenteng-Sanga. Terdapat 9 batu berlubang di puncak ini, semuanya terisi air bukan es. Ini membuat kami segera sadar bahwa udara cukup hangat untuk melepas jaket. Bagaimana batu-batu itu sampai berlubang dengan halusnya dan berada di puncak ini, hanya Tuhan yang tahu. Kemudian kami menyusuri jalan setapak yang relatif landai menuju puncak tertinggi Gunung Merbabu yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari Puncak Kenteng-Sanga.

Minggu pagi itu, Puncak Gunung Merbabu dengan ketinggian 3152m berangin dan dingin. Langit cerah, matahari bersinar di puncak yang hening seakan menyambut ke-11 pendaki. Pemandangan ke arah barat-laut; Gunung Sumbing, Gunung Sindara dan Dataran Tinggi Dieng tampak jelas dikejauhan. Puncak Sumbing terlihat cukup jauh tetapi seakan tersenyum dan meyakinkan kami akan keindahannya yang tak kalah dengan Puncak Merbabu. Di sebelah utara terlihat Gunung Telamaya dan Gunung Ungaran dengan Danau Rawapening yang terlihat samar-samar dikakinya. Di sebelah tenggara, Gunung Lawu tampak malu-malu menyapa kami ditengah-tengah mega.

Akhirnya, leher kami yang masih kaku kelelahan, kami putar ke arah selatan. Gunung Merapi masih berasap, perlahan ditiup angin ke arah Barat. Puncaknya yang putih tampak begitu jelas dari tempat kami berdiri. Seandainya Gunung Merapi meletus saat itu, lontaran batunya tentu dapat mencapai tempat kami.

Pengalaman di Puncak Merbabu rasanya seperti sepiring nasi-gudeg setelah seharian bekerja keras, mengenyangkan. Keringat disekujur tubuh seperti terhapus oleh segelas kopi tubruk panas. Pemandangan sungguh sangat indah dan luar biasa. Ditambah lagi sensasi kepahlawanan karena lapar dan dingin. Di puncak ini, kita dapat berdiri menjauh dari kerumunan dan yang terasa hanyalah keheningan. Rasanya seperti pernah berada disana ribuan tahun yang lalu, menyelesaikan pahatan batu berlubang dikehidupan yang lain.

Enggan untuk pulang, itulah perasaan ke-11 dari kami ketika tiba waktunya untuk turun kembali ke peradaban. Karena pendakian ini sangat membanggakan dan kami masih tak hentinya merekam pemandangan yang indah di sana dengan kamera-kamera kami. Tetapi kami harus mulai berjalan pulang.

Perjalanan turun 6 jam tidaklah mudah bahkan bagi yang sudah berpengalamanpun. Dua jam pertama turunan terjal hingga kecuraman 600 terkadang sampai 100m. Jalan setapak terkadang bercampur dengan jalur air yang siap menelan kaki-kaki orang yang kurang waspada. Taktik? Bahkan perlu strategi apabila ingin turun dengan enak tanpa menyiksa jari kaki, lutut dan paha. Lama kelamaan kami mulai melepaskan baju hangat karena udara mulai menghangat. Jalan setapak yang kami lalui tidak terlindung bayangan pohon, yang tampak hanyalah semak dan sisa-sisa pohon yang telah menjadi arang. Akhirnya pada ketinggian 2000m keteduhan mulai terasa, pohon-pohon muda dan beberapa pohon besar yang tersisa mulai tampak. Dahulu sekali, hutan disini tentunya sangat lebat.

Pukul 14:30 di hari Minggu yang mendung, kelompok terakhir tiba di Pos Pendakian Selatan Gunung Merbabu Desa Selo. Kami benar-benar merasa bangga karena telah dapat menyelesaikan pendakian ini. Lagipula Gunung Merbabu dengan ketinggian 3152m termasuk gunung yang cukup tinggi. Sebagian besar dari ke-11 pendaki ini bersepakat, bahwa perjalanan ini akan kami masukkan kedalam catatan pengalaman yang sangat berkesan dalam hidup kami.

CopiPanas – Volcanolovers in Indonesia

Iman Affan, Siswo Yulianto, Diah Anggraini, Stephanie Hitijahubessy, Handjono Suwono, Phil Salvador, Yuvid Rastianto, Karina Annayanti, Alham Samudra, Redo Waworuntu.

Merbabu

Aug 9, 2008
Climbed Volcanoes
High Volcanoes >3000 M
Save & Share      
Print This
 

Trip to Merbabu

Merbabu Track

Merbabu Track

By Handjono Suwono, Phil Salvador, Yuvid Rastianto, Redo Waworuntu

Klik di sini untuk Bahasa Indonesia

April 2007 – The lights of Gambir station quickly receded as the Argo Anggrek train glided towards Semarang in that cool night. By 21:30 the eyes of the 11 climbers have become heavy after the long afternoon in the Kartini-day celebration. The late dinner call at 00:30 did not wake most of us. The lights in Semarang were still lit when we arrived by 4:30. Half an hour later, by dusk we left the century old beautiful Tawang railway station riding across waking-up Semarang, passing the gorgeous Blenduk Church, and awesome Lawang-Sewu which is said to be the head-quarter of local spirits.

An hour drive to the student city of Salatiga, and off we stepped at Pasar Sapi Lama, into the infamous Warung Gudeg Koyor Bu Sukini. Do not miss it for it is one of the most famous gudeg junctions in Indonesia. Kopeng was only 30 minutes away from Salatiga but already chilly at 1000m. The Mount Merbabu north-base-camp of Tekelan is only 2km away through a narrow street of unconsolidated stones. There we did the final planning for the climbing.

By 9:50 we left the Tekelan base-camp and marched towards the summit. After 2 hours of relatively tame track to the 1800m altitude, the real ascent gradually began. Some 60 degrees slopes were already a little bit exhausting although the vertical heights of the ascent were not very torturing yet but an hour later we found out that the lunch bags had been carried through a different track by the porters. Luckily we could find slices of breads, cheese, dried meat, cakes and fruits in our bags.

The humid air very soon became chilly once we stopped for some breath. For the unaware ones, the tall grasses looked inviting for a lie-down but very soon your back would be wet and you would feel painfully cold. The last rays of the sun were a luxury to dry our damp clothes. When the twilight quickly came, we walked on the rim and looked at God’s beautiful painting in the sky. Sun-set ray reflections and clouds below made us realized that human beings are only one small part of the universe. But very soon the darkness took over. Now the headlamps must be lit for we did not want to tumble down the slopes. A few meters ascent was very precious especially when warm clothes and foods were scarce. Fortunately the moon and thousands of stars in the clear sky accompanied us to the summit. Not a full moon but bright enough to light the spirits of the hungry and cold.

At 2500m we decided to camp, for the team was already exhausted due to cold and hunger. The late dinner was at the same time a gathering around the crackling fire. No one wanted to be too far away from the fire. There was not really an appetite teasing one under the sky at 10 degrees C, but the night was really fine. The lights of the villages spread over the foot of the mountain and further east the yellow lights of Salatiga city lamps gave a sense of warmth from the distance.

Early morning, we had a pushed-though-the throats breakfast of instant noodle, eggs and apples. Luckily the hot sweet tea did the job. Then, again the 11 climbers marched towards the summit.

Despite the dim moonlight our headlamps still worked hard when we left the camp site for the summit by 4:00. Indeed, the ascent to the summit was an epic climb. The final part to the summit was overall a steep 3 hours mix of rock and wet soil, but we managed thanks to our grip soles. With the headlamps we negotiated the demanding ascent, sometimes close to 90 degrees slopes. The vertical heights were also sometimes very high and fist-size stones sometimes rolled down after being stepped on by our limp feet. Surprisingly the early morning march was not too cold.

The closer to summit the steeper the ascent, until the final approach, where a tough negotiation must be made between us and a 20cm wide, uneven stone path. The path’s left edge is towards a curving gorge and the right edge is vertical rock. Not a real bottomless abyss, but the inexperienced climbers among us felt like instant heroes upon safely passing it. Another 60-80 degrees long torturing slope to the summit, followed by a “bonus” of relatively leveled track, and there we were, at the Kenteng-Sanga summit. The 9 holed stone blocks on this summit were filled with water, not ice, so we knew it was fine for some of us to test our endurance by taking off our jackets. How were the stones so precisely holed and brought up there, only God knows. We followed the relatively gentle track to the tallest summit of the mighty Mount Merbabu that is only 100 meters away from Kenteng-Sanga summit.

The 3152m summit of Merbabu was windy and chilly that Sunday morning. The sky was clear, the sun gleamed on the serene summit welcoming the 11 climbers. Now look to the north-west, Mount Sumbing – Sindara and Dieng Plateu are looming in the distance. Sumbing’s summit is far away but smiling and trying to convince us that it is as beautiful as Merbabu’s. To the north are Mount Telamaya and Ungaran, with Rawapening Lake lying vaguely at their feet. To the south-east is the shy Mount Lawu saying hello to us amidst the white clouds.

And finally turn your stiff neck to the south where the furious Mount Merapi was still smoking gently, its fumes blown by the wind to the west. The white tip of the summit looked so clear from where we stood that we wondered if projectiles could reach us should it erupt just then.

The summit experience was like a dish of nasi-gudeg after a hard day’s work, fulfilling and wiping out all the sweat like a glass of hot java coffee. It was really a breath-taking view and we decided it was beyond compare, not to mention the heroic sensation after the hunger and cold. Stand a little distance from the crowd and you would feel the serenity, as if you had been there carving the holed stones thousands years ago in a different life.

Reluctance spread amongst the 11 heroes when the time came for us to descend back to civilization, for it was a well earned climb and we could endlessly record the sensational views with our cameras. However, if we stayed much longer we would be too late for the trip back home.

The 6 hours descent was not easy for the 11 of us, neither for the more experienced half or the less experienced one. In the first 2 hours of descent some 60 degrees steep and 100m high slopes were encountered, not to mention the treacherous water gorges that were eager to swallow the feet of the less cautious ones. Tactics? Strategy was even needed when you descend those slopes without wanting to torture your toes, knees and thighs. Gradually we took off our warm clothes for the chill turned into warmth. There was no shade along the track at first, only bushes and burnt trees. Fortunately, at the 2000m altitude mark young trees and occasional old trees gradually shaded the tracks. There must have been a forest once upon a time over there.

At 14:30 on that cloudy Sunday afternoon the last pair of hikers finally arrived at the Mount Merbabu southern-base-camp in the Selo village. We felt decidedly like heroes for it was an epic journey to the mighty Merbabu (3152m). For many of us it was counted as one of great experiences in our life.

CopiPanas – Volcanolovers in Indonesia
Iman Affan, Siswo Yulianto, Diah Anggraini, Stephanie Hitijahubessy, Handjono Suwono, Phil Salvador, Yuvid Rastianto, Karina Annayanti, Alham Samudra, Redo Waworuntu.

CopiPanas Photostream

More CopiPanas photos...